Somalia: Khatumo Bangkit dari Luka Perang
Pembangunan di wilayah SSC-Khatumo perlahan mulai menggeliat setelah bertahun-tahun terjebak konflik dan ketidakpastian politik. Meski infrastruktur masih sangat terbatas, tanda-tanda kebangkitan kini mulai terlihat, terutama melalui inisiatif lokal yang digerakkan langsung oleh masyarakat setempat dan otoritas regional.
Pemerintah regional timur laut Somalia menegaskan bahwa arah kebijakan mereka berfokus pada pertumbuhan dan pemulihan jangka panjang. Para pejabat dan tokoh lokal yang kini memimpin wilayah tersebut dikenal memiliki keinginan kuat untuk melihat daerahnya bangkit dari keterbelakangan yang diwariskan konflik.
Berbeda dengan masa lalu, pembangunan kali ini tidak sepenuhnya menunggu bantuan besar dari luar. Penduduk setempat memilih bergerak dengan sumber daya yang ada, membangun proyek-proyek dasar yang mereka anggap paling mendesak dan bermanfaat bagi mayoritas masyarakat.
Salah satu simbol awal kebangkitan itu adalah berdirinya sebuah pusat rehabilitasi dan pendidikan bagi penyandang disabilitas korban konflik di Lascaanod. Fasilitas ini ditujukan bagi para pemuda yang kehilangan anggota tubuh akibat pertempuran, agar mereka tidak tersisih dari masa depan wilayahnya sendiri.
Pusat tersebut dirancang bukan sekadar sebagai tempat perawatan medis, tetapi juga sebagai ruang pemulihan sosial. Para korban konflik diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan, keterampilan dasar, dan rehabilitasi fisik agar dapat kembali berperan aktif dalam masyarakat.
Inisiatif ini muncul dari kesadaran kolektif bahwa perang telah meninggalkan luka mendalam, terutama bagi generasi muda. Banyak anak dan remaja yang harus menghadapi hidup dengan disabilitas permanen akibat konflik bersenjata di kota tersebut.
Direktur proyek, Fardus Ibrahim, menjelaskan bahwa pusat rehabilitasi ini dibangun dengan semangat gotong royong. Menurutnya, masyarakat di wilayah itu tidak mengeluh tentang keterbatasan, melainkan ingin bergerak maju dan mencapai pembangunan yang nyata.
Fardus menekankan bahwa tujuan utama proyek ini adalah memastikan korban perang tidak menjadi generasi yang hilang. Dengan pendidikan dan rehabilitasi, mereka diharapkan mampu membangun kembali martabat dan kemandirian.
Perkembangan ini mendapat perhatian tokoh nasional. Mantan Perdana Menteri Somalia, Ali Mohamed Ghedi, melakukan kunjungan langsung ke fasilitas tersebut dan melihat dari dekat proses rehabilitasi yang sedang berjalan.
Dalam kunjungannya, Ali Mohamed Ghedi menerima laporan terperinci dari pimpinan proyek mengenai tantangan, kebutuhan, dan capaian awal pusat rehabilitasi tersebut. Ia juga berdialog dengan para pemuda korban konflik yang tengah menjalani pemulihan.
Kehadiran mantan perdana menteri itu dipandang sebagai sinyal dukungan politik dan moral terhadap upaya pembangunan di Khatumo. Banyak pihak menilai kunjungan ini penting untuk menarik perhatian nasional dan internasional.
Ali Mohamed Ghedi disebut mengapresiasi inisiatif lokal tersebut, seraya menekankan bahwa rekonstruksi pascakonflik harus dimulai dari kebutuhan paling mendasar masyarakat. Menurutnya, pembangunan manusia adalah fondasi utama sebelum membangun infrastruktur fisik.
Di tengah keterbatasan anggaran dan fasilitas, proyek ini dianggap sebagai langkah kecil dengan dampak besar. Ia menunjukkan bahwa stabilitas yang mulai terbentuk bisa langsung diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Pembangunan di Khatumo selama ini terhambat karena status wilayah yang disengketakan dan konflik bersenjata berkepanjangan. Akibatnya, investasi dan layanan publik hampir tidak pernah menjangkau kawasan ini secara konsisten.
Kini, dengan terbentuknya pemerintahan regional yang relatif stabil, peluang untuk mengejar ketertinggalan mulai terbuka. Proyek sosial seperti pusat rehabilitasi ini menjadi bukti awal perubahan arah tersebut.
Masyarakat setempat berharap proyek ini dapat menjadi model bagi pembangunan sektor lain, seperti pendidikan, kesehatan umum, dan infrastruktur dasar. Mereka menilai bahwa keberhasilan kecil dapat menumbuhkan kepercayaan diri kolektif.
Sejumlah media internasional dan regional mulai menyoroti perkembangan ini, menandakan meningkatnya perhatian terhadap Khatumo setelah lama berada di pinggiran pemberitaan. Sorotan ini diharapkan dapat membuka pintu bagi dukungan lebih luas.
Meski tantangan masih besar, optimisme mulai tumbuh di kalangan warga. Bagi banyak orang, pembangunan yang digerakkan dari bawah dianggap lebih berkelanjutan karena sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Para tokoh lokal menegaskan bahwa mereka tidak ingin wilayah ini kembali terjebak dalam konflik atau dimanfaatkan kepentingan luar. Fokus mereka adalah pemulihan, stabilitas, dan pembangunan jangka panjang.
Khatumo kini berada pada fase transisi yang krusial. Keberhasilan proyek-proyek awal seperti pusat rehabilitasi korban perang akan sangat menentukan arah masa depan wilayah tersebut.
Jika stabilitas terjaga dan pembangunan terus berjalan, Khatumo berpotensi mengubah citranya dari wilayah konflik menjadi simbol kebangkitan pascaperang di Somalia bagian utara.


Post a Comment