Suriah: Diplomasi Sunyi di Hasakah
Di tengah konflik Suriah yang belum sepenuhnya mereda, sebuah narasi baru muncul dari timur laut negara itu. Bukan ledakan atau pertempuran besar yang menjadi sorotan, melainkan diplomasi senyap yang perlahan mengubah peta kekuasaan di Provinsi Hasakah.
Sorotan publik tertuju pada sebuah cuitan akun X @SOHEB209 yang mengulas strategi Ahmed al-Sharaa. Cuitan tersebut mendapat lebih dari 1.200 tanda suka dan puluhan balasan, menandakan resonansi luas di kalangan warganet yang mengikuti perkembangan konflik Suriah.
Ahmed al-Sharaa digambarkan sebagai sosok pemimpin yang cerdas dan berhitung matang. Melalui pendekatan politik dan keamanan yang terukur, ia disebut berhasil mengamankan wilayah-wilayah Arab serta sejumlah kota utama di Hasakah tanpa pertumpahan darah besar.
Keberhasilan ini dipandang signifikan karena dicapai melalui Tentara Arab Suriah dengan pendekatan diplomatik, bukan operasi militer brutal. Langkah tersebut dinilai menghindarkan pemerintah Suriah dari tuduhan pelanggaran hak asasi manusia yang kerap mengundang tekanan internasional.
Cuitan itu menegaskan bahwa hanya dua kota yang masih menjadi tantangan utama, yakni Hasakah dan Qamishli. Keduanya menjadi simbol sisa kekuatan bersenjata yang belum sepenuhnya berada di bawah kendali Damaskus.
Pemerintah Suriah pun mengeluarkan pernyataan tegas dengan memberi ultimatum empat hari kepada kelompok bersenjata di dua kota tersebut. Pilihannya jelas, menyerah dan bergabung sepenuhnya ke dalam struktur negara atau menghadapi operasi militer dengan dukungan internasional.
Sementara itu, pendekatan berbeda diterapkan di wilayah seperti Derbasiyah, Amuda, dan Malikiyah. Di sana, kesepakatan keamanan internal diserahkan kepada penduduk lokal, mencerminkan fleksibilitas pemerintah dalam mengakomodasi realitas sosial dan budaya setempat.
Langkah ini menunjukkan bahwa Damaskus tidak menggunakan satu pola seragam, melainkan menyesuaikan kebijakan berdasarkan karakter masing-masing daerah. Stabilitas jangka pendek diprioritaskan tanpa mengorbankan kontrol negara.
Namun ada satu syarat utama yang menjadi benang merah seluruh kesepakatan, yaitu keluarnya PKK dari wilayah Suriah. Penulis cuitan meyakini bahwa poin ini akan menjadi hambatan terbesar karena PKK diperkirakan tidak akan mundur tanpa perlawanan.
Gambar peta yang disertakan dalam cuitan memperkuat pesan tersebut. Wilayah seperti Al-Shaddadi, Al-Talkid, dan Al-Sukak dilingkari merah, menggambarkan zona-zona krusial yang sedang diperebutkan dalam dinamika konflik saat ini.
Respons warganet atas cuitan itu menunjukkan spektrum pandangan yang luas. Sebagian mendukung penuh strategi pemerintah, sementara lainnya memberikan catatan kritis terhadap tantangan di lapangan.
Akun @rymwn16919 menilai bahwa kritik keras justru banyak datang dari luar negeri. Menurutnya, luasnya wilayah dan tekanan internasional menuntut kesabaran serta kepercayaan pada kemampuan pemerintah Suriah.
Balasan lain dari @habnnakeh_firas mengindikasikan bahwa masa empat hari ultimatum bisa digunakan untuk membentuk milisi Kurdi yang setia kepada Damaskus. Taktik ini dipandang sebagai upaya memecah kekuatan internal yang berseberangan.
Akun @Moradalha menyebut bahwa selama periode tersebut, pasukan Suriah akan fokus mengamankan Deir ez-Zor, Tabqa, Raqqa, serta pedesaan Hasakah. Ia juga menyinggung absennya Kobane dari pernyataan resmi karena pertempuran masih berlangsung di sana.
Nada optimisme dan patriotisme semakin terasa ketika ia menyebut pemerintah Suriah bertindak cerdas, sementara SDF dianggap terus melakukan kesalahan strategis yang merugikan posisi mereka sendiri.
Balasan dengan video dari @Ali682977112718 menampilkan adegan negosiasi, yang diyakini melibatkan unsur SDF atau PKK. Video ini menambah dimensi visual pada diskursus publik mengenai masa depan wilayah timur laut Suriah.
Di sisi lain, akun @histoire94 mengkritik kegagalan taktis di beberapa front, seperti Tel Tamr dan Ain Issa. Kritik ini memberikan kontras terhadap narasi sukses Hasakah, menegaskan bahwa konflik belum sepenuhnya selesai.
Pujian tertinggi datang dari @os9450899510152 yang menyamakan Ahmed al-Sharaa dengan Umar bin al-Khattab di era modern. Ungkapan ini mencerminkan kepercayaan besar pada figur al-Sharaa sebagai pemimpin pemersatu.
Akun @raaedfa bahkan menyebut bahwa SDF telah kehilangan sekitar 90 persen wilayahnya akibat strategi pengepungan cepat dan kerja intelijen yang efektif. Menurutnya, sisa wilayah hanyalah soal waktu untuk direbut.
Penjelasan teknis datang dari @DrEsamBaraka yang menekankan bahwa keamanan internal kini dikelola Kementerian Dalam Negeri Suriah dengan perekrutan warga lokal. Ini berarti berakhirnya struktur lama dan integrasi penuh ke dalam sistem negara.
Menutup diskusi, akun @F_thunayan1 memprediksi bahwa SDF mungkin akan menyetujui pernyataan tersebut secara sementara, namun menunda implementasi melalui negosiasi panjang. Ia menilai situasi ini lebih sebagai jeda strategis, di mana diplomasi dan kekuatan militer berjalan beriringan, membentuk fase baru dalam konflik Suriah.


Post a Comment